![]() |
| Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia |
NABIRE, UVUKTIMUR.COM — Masyarakat Adat Asli Papua dengan tegas menolak rencana Presiden Prabowo Subianto untuk melanjutkan pengembangan perkebunan kelapa sawit di Tanah Papua. Penolakan ini mencuat setelah pernyataan Presiden Subianto dalam pertemuan dengan enam Gubernur Papua dan seluruh Kepala Daerah se-Tanah Papua yang diselenggarakan di Istana Presiden pada tanggal 16 Desember 2025 Baru baru ini.
Berdasarkan wawancara dan laporan yang diterima www.uvuktimur.com dari berbagai tokoh masyarakat, perwakilan gereja, dan lembaga bantuan hukum (LBH) dari tanggal 17 hingga 20 Desember 2025, masyarakat akar rumput, sebagai pemilik sah tanah leluhur di Bumi Cenderawasih, provinsi paling timur Indonesia, menyatakan keberatan mereka terhadap keinginan Presiden untuk kembali menggalakkan penanaman kelapa sawit di Tanah Papua. Alasan utama penolakan ini adalah kekhawatiran akan hancurnya tatanan kehidupan Rakyat orang asli Papua.jelasnya.
![]() |
| Saat Presiden Mengarakan untuk Menanam Sawit di Papua Ruanagan Kepseden RI |
Penolakan terhadap kebijakan ini tidak hanya disuarakan oleh masyarakat akar rumput, tetapi juga datang dari berbagai lembaga berpengaruh dan tokoh masyarakat terkemuka. Arahan Presiden ini telah tersebar luas melalui siaran Youtube TV ONE, menjadikannya topik diskusi publik yang hangat.
![]() |
| Ruang Rapat Parah Gubernur dan Bupati Se Tanah Papua |
Penolakan ini didasarkan pada berbagai alasan yang mendalam, terutama karena kehidupan Orang Asli Papua sangat bergantung pada kelestarian hutan dan alam Papua yang kaya. Hingga saat ini, banyak konsesi sawit dan kegiatan penambangan ilegal seperti emas dan nikel, serta operasi perusahaan kayu dan kelapa sawit, telah sangat mendominasi dan menguasai Tanah Papua.
Masyarakat Papua juga telah menyaksikan dan memahami betul dampak kerusakan hutan dan lingkungan di Provinsi Sumatera Barat dan Utara, termasuk Aceh, yang telah mengakibatkan banyak penderitaan dan korban di kalangan rakyat kecil Indonesia. Oleh karena itu, Jelas mereka menegaskan bahwa Papua sangat mungkin mengalami nasib serupa dengan kejadian di Sumatera jika kebijakan ini terus dilanjutkan.
Dengan demikian, keputusan Presiden Prabowo terkait penanaman sawit di Papua harus secara mutlak dicabut dan ditolak demi keberlanjutan hidup dan martabat masyarakat adat Papua.tutupnya.(*).



Tidak ada komentar:
Posting Komentar